--===MARI BERBAGI===--

Arya Penangsang (6)


Arya Penangsang (6)

imagebam.com 
 
Setibanya di Pajang, Adipati Adiwijaya beserta rombongan disambut para pejabat dengan suka cita. Tak ada yang kurang dari jumlah rombongan, Semua dalam kondisi baik dan selamat.
Adipati Adiwijaya berkenan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Pada sore harinya, Adipati Adiwijaya memanggil Ki Mas Manca, Ki Mas Wila, Ki Mas Wuragil, Ki Ageng Pamanahan berikut Ki Juru Mertani.
Diruang khusus, dan tidak ada orang lain yang hadir selain keenam orang tersebut, Adipati Adiwijaya menyampaikan maksudnya. Sang Adipati berkenan meminta pemecahan mengenai kasus Arya Penangsang.
Arya Penangsang tidak bisa terus menerus didiamkan saja. Harus ada pihak yang berani bertindak. Dan tampaknya, hanya Pajang yang mampu menghadapi kekuatan Jipang.
Yang menjadi masalah, posisi Pajang sangatlah terjepit. Pajang dipimpin oleh seorang Adipati yang bukan muslim. Dan tentu saja fenomena ini akan membuat Dewan Wali Sangha tidak menaruh simpatik.
Searogan apapun Arya Penangsang, sekejam apapun dia, namun dia telah memegang dua point penting sebagai sendi kekuatannya. Pertama, jelas dia seorang muslim, kedua, Sunan Kudus berada dibelakang dia.
Oleh karenanya, Adipati Adiwijaya meminta pertimbangan dan jalan keluar yang tepat, yang tidak merugikan Pajang, namun bisa menghancurkan kekuatan Jipang.
Ki Mas Manca mengusulkan agar Sang Adipati tidak gegabah berhadapan secara langsung dengan Arya Penangsang. Ki Mas Manca telah mendengar kabar bahwa di pesantren Kudus, Sang Adipati hampir saja kehilangan kontrol diri. Jika memang hendak berhadapan dengan Arya Penangsang, lebih baik menggunakan kekuatan ketiga.
Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil membenarkan pendapat Ki Mas Manca. Begitu juga dengan Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani. Yang menjadi masalah sekarang, siapakah kekuatan ketiga yang bisa dijadikan alat untuk memukul Jipang?
Seluruh yang hadir terdiam. Masing-masing tengah memeras otak.
Lantas, Ki Ageng Pamanahan angkat bicara sembari menyembah :
“Mohon beribu ampun, Kangjeng Adipati. Jika diperbolehkan hamba akan memberikan masukan…”
Adipati Adiwijaya mengangguk…
“ Menurut saya,” lanjut Ki Ageng Pamanahan, ”Tidak ada lagi kekuatan dahsyat yang mampu menghadapi Jipang kecuali kekuatan Pajang. Tak ada jalan lain, tak ada kekuatan lain yang akan sanggup melakukannya. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengharapkan daerah lain tampil secara mandiri berhadapan dengan Jipang.”
Semua yang hadir mengerutkan dahi mendengarnya…
“Mau tidak mau, pasukan Pajang sendiri harus bergerak! Namun….”
Semua yang hadir menunggu…
“Sebaiknya, pasukan Pajang harus melepas busana keprajuridan Pajang. Pasukan Pajang harus melepas identitasnya sebagai pasukan Pajang. Harus ada daerah lain yang berani tampil kedepan untuk mengakui bahwa, pasukan Pajang yang tengah bergerak menggempur Jipang, berasal dari daerahnya. Jika kelak terjadi perang terbuka, menang atau kalah, maka Pajang tidak akan terbawa-bawa!”
Tertegunlah seluruh yang hadir…
Ki Mas Manca angkat bicara :
“ Pamanahan, lantas daerah manakah yang dimungkinkan untuk berani tampil mengakui seperti itu?”
Ki Ageng Pamanahan menyembah :
“Kalau memang diijinkan, biarlah hamba dan paman saya, Ki Juru Mertani yang akan tampil kedepan. Biarlah kami atas nama daerah Sela, memimpin pasukan Pajang melakukan perang terbuka dengan Jipang Panolan. Biarlah terdengar kabar, Jipang Panolan tengah berperang dengan Sela!”
Seluruh yang hadir menghela nafas berat. Suasana hening untuk beberapa saat.
Ki Mas Manca kemudian angkat bicara :
“Daerah Sela identik dengan Kangjeng Sunan Kalijaga….”
Adipati Adiwijaya memincingkan mata mendengarnya…
“Dan Jipang Panolan identik dengan Kangjeng Sunan Kudus,” lanjut Ki Mas Manca.
“Dan akan menjadi sebuah berita yang besar manakala Dewan Wali Sangha mendengarnya, bukankah begitu kangmas Manca?” Sela Adipati Adiwijawa datar.
Ki Mas Manca menyembah sesaat :
“Benar dhimas Adipati. Dan jika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan, Dewan Wali Sangha akan campur tangan untuk memaksa kedua belah pihak agar melakukan genjatan senjata.”
Adipati Adiwijaya menghela nafas sekali lagi…
Nampak kini, Ki Juru Mertani menghaturkan sembah…
“Mohon beribu ampun, Kangjeng Adipati. Jika boleh saya hendak menghaturkan pendapat..”
Adipati Adiwijaya mengangguk mempersilakan..
“Sebaiknya Kangjeng Adipati mengeluarkan sayembara khusus secara terselubung kepada para penguasa daerah yang berada dibawah kekuasan Pajang. Mohon sayembara ditawarkan kepada penguasa yang jelas-jelas telah nyata kesetiaannya kepada Pajang. Hindari penguasa daerah yang masih diragukan kesetiaannya. Dari sekian banyak para penguasa daerah yang ditawari sayembara, pastilah ada yang akan berani tampil untuk memimpin pasukan Pajang dengan menggunakan identitas daerahnya. Jikalau memang tidak ada yang berani, maka terpaksa, saya beserta keponakan saya, Pamanahan, akan tampil kedepan dengan mempertaruhkan nama Sela! Saya berjanji, saya akan memotong kepala harimau terlebih dahulu agar peperangan tidak berjalan berlarut-larut. Arya Penangsang, saya pastikan harus tewas terbunuh terlebih dahulu. Sehingga jika kemudian Dewan Wali Sangha ikut campur memaksakan agar terjadi gencatan senjata, maka disaat gencatan senjata terjadi, Arya Penangsang harus telah mati!!”
Ki Mas Manca meragukan kata-kata Ki Juru Mertani…
“Juru Mertani, yakinkah kamu dengan ucapanmu?”
Ki Juru Mertani menyembah :
“Dengan taktik yang bakal hamba buat, untuk memperdaya Arya Penangsang, agar keluar sarang sendirian, saya yakin, saya pasti bisa memenuhi ucapan saya, Kangjeng Patih..”
Ki Mas Manca mengangguk-angguk, lantas dia menoleh ke arah Adipati Adiwijaya :
“Bagaimana, dhimas Adipati?”
Adipati Adiwijaya tercenung sesaat, lantas dia berkata :
“Baiklah, tapi hal tersebut dilakukan jika memang nanti tidak ada satupun daerah yang berani memasuki sayembara. Oleh karenanya, aku akan memberikan imbalan besar. Yaitu, siapa saja yang berani mengakui pasukan yang bakal menggempur Jipang berasal dari daerahnya dan berhasil mematahkan kekuatan Jipang, maka aku akan memberikan hutan Mentaok dan daerah Pati sebagai imbalannya!”
Keputusan telah diambil. Tidak menunggu waktu lama, atas perintah Adipati Adiwijaya, Ki Mas Manca segera memerintahkan Juru Tulis Kadipaten untuk membuat surat-surat undangan resmi. Surat-surat undangan yang bakal dikirim kepada para penguasa daerah yang berada diwilayah kekuasaan Kadipaten Pajang. Pada hari yang telah ditentukan, mereka harus datang ke Kadipaten Pajang atas perintah Adipati Adiwijaya.
Sayembara Adipati Pajang.
Tiga bulan kemudian, beberapa hari sebelum hari yang telah ditetapkan dalam surat undangan resmi, berdatanganlah para penguasa daerah yang ada diseluruh wilayah Kadipaten Pajang. Mereka datang berkelompok, tidak bersamaan, gelombang pergelombang. Tidak ada yang mencolok. Karena memang begitulah pesan yang dituliskan dalam surat undangan dari Sang Adipati.
Dan pada hari yang ditetapkan, seluruh penguasa daerah telah berkumpul di Siti Hinggil Kadipaten. Lama waktu berselang, mereka semua menunggu kehadiran Sang Adipati ditempat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah Adipati Adiwijaya diiringi Ki Mas Manca dan kepala pengawal pasukan khusus Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani, berikut beberapa prajurid khusaus yang mengawal.
Didepan para penguasa daerah, Adipati Adiwijaya meminta Ki Mas Manca membacakan sayembara. Seusai sayembara dibaca, suasana mendadak hening. Tak ada yang berani bersuara. Melihat situasi menjadi sepi dan tegang, Adipati Adiwijaya angkat bicara, dia mempertegas isi sayembara dengan menantang, siapa yang berani tampil kedepan, yang akan memimpin pasukan Pajang, dengan menggunakan identitas dari daerahnya?
Suasana sepi tidak juga mencair. Hingga kemudian, seorang penguasa daerah, terlihat menyembah dan berkata :
“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Ijinkan saya mengutarakan kebimbangan saya, yang mungkin juga mewakili kebimbangan hati dari seluruh teman-teman yang hadir disini. Kangjeng, jika kami semua diperintahkan angkat senjata menggempur Jipang atas nama pasukan Pajang, sudah barang tentu, kami tidak akan banyak berfikir panjang, jiwa raga kami akan kami pasrahkan untuk itu. Namun, manakala kami harus menggempur Jipang atas nama daerah kami, mohon maaf, Kangjeng. Jika nanti benar-benar terjadi hal tersebut, kami tidak berani menanggung resiko dengan mengorbankan kerabat kami yang ada didaerah. Kaum Putihan terkenal radikal dan bisa berbuat ngawur atas nama agama. Mohon Kangjeng memaklumi.”
Adipati Adiwijaya menghela nafas. Kata-kata yang terucap barusan memang ada benarnya. Karena tidak ada juga yang berani memasuki sayembara, maka Adipati Adiwijaya-pun menutup pertemuan tersebut. Sebelum menutup pertemuan, Sang Adipati meminta pengiriman pasukan dari semua daerah untuk memperkuat barisan pasukan Pajang. Perintah yang terakhir ini, disambut dengan suka cita tanpa keraguan sedikit-pun oleh semua penguasa daerah.
Mendapati sayembara yang dipermaklumatkan tidak ada yang memasuki, maka hari itu juga, Adipati Adiwijaya mengutus Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani untuk menjalankan rencana lain yang pernah mereka tawarkan. Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani, segera menjalankan perintah!
Angkatan bersenjata Pajang segera mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah perang besar. Mereka dikoordinir dibawah pimpinan penuh Ki Ageng Pamanahan! Sembari menunggu bantuan pasukan dari daerah, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani mematangkan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.
Atas saran Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pamanahan diminta untuk menguasahakan agar Tombak Pusaka Kyai Plered, bisa mereka pinjam. Karena hanya dengan tombak pusaka peninggalan Majapahit tersebut, kulit Arya Penangsang bisa dilukai. Hanya saja, tombak tersebut sedemikian berharga bagi Adipati Adiwijaya dan tidak akan mungkin dipinjamkan begitu saja kecuali kepada orang yang benar-benar dipercayai oleh Sang Adipati. Maka terpaksa, Ki Ageng Pamanahan, atas saran Ki Juru Mertani, meminta agar Danang Sutawijaya, putranya yang kiini telah diambil anak angkat oleh Adipati Adiwijaya, diminta untuk ikut memperkuat barisan.
Adipati Adiwijaya tidak paham atas permintaan ini, selain Danang Sutawijaya masih kecil, tidak ada kelebihan Danang Sutawijaya yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat barisan Pajang. Namun, dengan cerdiknya, Ki Ageng Pamanahan meyakinkan Adipati Adiwijaya, bahwa mengajak Danang Sutawijaya untuk memperkuat barisan Pajang adalah salah satu dari tak-tik yang hendak dijalankan. Pada akhirnya, Adipati Adiwijaya menyetujui. Bahkan manakala Ki Ageng Pamanahan memohon agar Danang Sutawijaya diperkenankan membawa tombak pusaka Kyai Plered, Sang Adipati-pun tidak bisa menolaknya.
Setelah bantuan pasukan dari daerah telah sepenuhnya datang, maka pasukan segera berangkat. Tujuan awal adalah daerah Sela. Daerah asal Ki Ageng Pamanahan. Disana, seluruh pasukan akan diatur sedemikian rupa. Sela menjadi pusat konsentrasi pasukan Pajang. Dan nanti, identitas seluruh pasukan akan berganti menjadi pasukan Sela! Akan dikabarkan, bahwa pengikut Islam Abangan, bergabung di Sela untuk memerangi Jipang Panolan dibawah pimpinan Ki Ageng Pamanahan, keturunan Ki Ageng Sela! Nama Pajang, tidak sedikit-pun dibawa-bawa!
Pasukan segera berangkat berkelompok menuju Sela. Dengan berpakaian rakyat biasa serta menyembunyikan seluruh persenjataan didalam bilah bambu, maka kelompok demi kelompok, secara terpisah-pisah waktu, agar supaya tidak mencolok dan menimbulkan kecurigaan, berangkatlah seluruh pasukan Pajang.
Pergerakan pasukan ini benar-benar tersamarkan. Susul menyusul rapih dan teratur. Dan pada akhirnya, beribu-ribu pasukan pun kini telah berkumpul di Sela!
Rencana segera dimatangkan di Sela. Seluruh pasukan mengenakan tanda khusus yang disematkan dibaju mereka. Dengan pakaian rakyat biasa, layaknya para gerilyawan Majapahit, pasukan Pajang yang kini mengaku diri mereka sebagai pasukan Sela, telah siap untuk bertempur!!
Pada hari yang telah ditentukan, menjelang malam hari, pasukan-pun bergerak. Pasukan dipecah dalam empat kelompok besar. Sengaja pasukan dipecah demi untuk kembali menyamarkan diri. Disuatu titik, yaitu diperbatasan wilayah Jipang yang berwujud sungai, disanalah nanti, keempat kelompok pasukan harus kembali bertemu.
Setiap kelompok pasukan menempuh rute-rute khusus. Rute-rute yang menghindari daerah-daerah padat penduduk. Beberapa hari kemudian, seluruh kelompok telah bersatu kembali ditempat yang telah disepakati bersama.
Seluruh pasukan segera mempersiapkan diri, senjata-senjata dikeluarkan dari bilah bambu, anak panah dibagi-bagikan, pos-pos prajurid darurat ditetapkan dan segera ditempati oleh mereka-mereka yang ditunjuk untuk itu. Gerakan rahasia ini begitu rapi, sebentar saja, persiapan untuk sebuah perang besar, telah tertata!! Pasukan Pajang siap melumat Jipang panolan hari itu juga!!
Seluruh prajurid kini menunggu komando selanjutnya.
Dititik yang lebih tersembunyi, terlindung dibalik gerombol pepohonan lebat, Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani tengah menunggu saat yang tepat. Nampak Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pamanahan, putra angkat Adipati Pajang Adiwijaya telah mempersiapkan diri menjalankan tugas. Dia berdiri disamping kuda putih yang nanti harus ditungganginya. Sebatang tombak panjang, dengan ujung tertutup kain putih dan rangkaian bunga melati tergantung disana, tergenggam erat ditangan kecil Danang Sutawijaya. Itulah tombak pusaka Kyai Plered yang terkenal ampuh!
(Kyai Plered konon diperoleh Syeh Maulana Maghribi, seorang wali Islam jaman Majapahit setelah dia berhasil melakukan tapa brata keras dipantai Parang Tritis, Jogjakarta, sekarang. Tombak ini lantas diberikan kepada Ki Ageng Tarub I atau Kidang Telangkas. Lantas diwariskan kepada Raden Bondhan Kejawen, putra Prabhu Brawijaya V dengan Dewi Wandhan Kuning yang lantas bergelar Ki Ageng Tarub II. Diwariskan kemudian kepada Ki Getas Pandhawa, putra Raden Bondhan Kejawen. Lantas di serahkan kepada Ki Ageng Sela, putra Ki Getas Pandhawa. Manakala berada ditangan Ki Ageng Sela, tombak dititipkan kepada Sunan Kalijaga. Lantas oleh Sunan Kalijaga, dititipkan kepada Jaka Tingkir, Adipati Pajang hingga saat ini. Maka sesungguhnya, tombak Kyai Plered memang milik leluhur Danang Sutawijaya. Karena Ki Ageng Sela lantas berputra Ki Ageng Ngenis, Ki Ageng Ngenis berputra Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Ageng Pamanahan berputra Danang Sutawijaya, Jika ada yang bertanya mengapa silsilah keturunan Tarub jika disejajarkan dengan keturunan Pengging maka lebih cepat beranak pinak? Hal ini tidaklah aneh. Dimasyarakat Jawa sekarang-pun kadang pemuda berusia 20 tahun sudah dipanggil kakek karena kakak kandungnya telah memiliki cucu. Hal ini disebabkan jarak lahir mereka terpaut jauh beberapa tahun. Begitu pula dengan trah Tarub dan Pengging, bila ditarik garis lurus keatas, maka Ki Ageng Sela adalah cicit Brawijaya V sejajar dengan Jaka Tingkir yang juga merupakan cicit Brawijaya V. Namun, usia Ki Ageng Sela lebih tua dari Jaka Tingkir karena memang Ki Ageng Sela lahir lebih dahulu disebabkan ayah kandungnya, Ki Getas Pandhawa menikah diusia muda, lebih muda daripada Ki Ageng Pengging. Begitu juga ketika Ki Ageng Sela telah berputra Ki Ageng Ngenis, Jaka Tingkir belum menikah. Manakala Ki Ageng Ngenis berputra Ki Ageng Pamanahan, baru Jaka Tingkir menikah diusia yg agak tua. Maka tak heran, putra Ki Ageng Pamanahan, yaitu Danang Sutawijaya, sebaya dengan putra Jaka Tingkir, Pangeran Benawa.
Ada yang tampak aneh dari kuda putih yang tali kekangnya tengah dipegang oleh Danang Sutawijaya. Kuda tersebut jelas bukanlah kuda jantan yang biasa dipakai untuk bertempur. Kuda ini jelas kuda betina. Dan tampak semakin aneh lagi, manakala diperhatikan lebih seksama, ekor kuda terlihat diikat keatas pelana sedemikian rupa, sehingga kemaluan kuda betina itu nampak terbuka jelas. Entah apa maksudnya. Ki Juru Mertani yang mempunyai ide seperti itu.
Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pamanahan tengah bersiap-siap mengirimkan seorang utusan yang hendak diutus ke Jipang. Utusan yang membawa surat tantangan perang! Namun, belum juga sang utusan berangkat, nampak dari kejauhan, diseberang sungai, tujuh orang tukang rumput berpakaian bagus terlihat tengah berjalan ditepian sungai sembari membawa keranjang rumput.
Ki Juru Mertani tertegun, pucuk dicinta ulam tiba, dia tahu pasti, ketujuh orang yang tengah terlihat itu tak lain adalah perumput dari istana Jipang Panolan. Mereka pastilah tukang rumput yang tengah bertugas mencarikan rumput untuk makanan kuda kesayangan Arya Penangsang, Kyai Gagak Rimang. Cepat Ki Juru Mertani memerintahkan agar Ki Ageng Pamanahan mempersiapkan diri. Ki Juru Mertani memberikan petunjuk singkat. Ki Ageng Pamanahan mengangguk tanda mengerti dan langsung menaiki punggung kudanya. Sejenak Ki Juru Mertani memberikan petunjuk kepada Kepala Pasukan agar tidak melakukan gerakan apapun tanpa ada perintah darinya. Lalu, dia menaiki punggung seekor kuda.
Tak berapa lama, nampak Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pamanahan terlihat memacu kuda menyeberangi sungai yang dangkal dibawah sana. Melihat kedatangan dua orang yang tidak dikenal, tujuh orang tukang rumput terkejut. Apalagi, terdengar kemudian dua orang itu berteriak memanggil mereka. Seketrika ketujuh perumput ini menghentikan langkah kakinya.
Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Pamanahan menghampiri mereka. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, keduanya segera turun dari atas pelana kuda masing-masing.
“Kisanak, buat siapakah rumput-rumput ini?” , tanya Ki Juru Mertani.
Salah seorang perumput menjawab :
“Rumput-rumput ini untuk makanan kuda Kangjeng Arya Jipang ( Arya Penangsang maksudnya : Damar Shashangka)!”
Ki Juru Mertani tersenyum. Dia keluarkan sebuah gulungan rontal dari balik bajunya.
“Kisanak, kami memiliki pesan buat junjungan kalian. Maukah kalian menyampaikannya?”
Ketujuh orang saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya :
“Kalian orang mana?”
Ki Ageng Pamanahan menjawab :
“Katakan kepada junjungan kalian, kami berasal dari Sela!”
Ragu ketujuh orang tersebut.
“Siapakah yang mau aku titipi?” , sergah Ki Juru Mertani.
Agak ragu, salah seorang perumput mendekat..
“Baiklah, mana?”
Orang yang baru berkata segera mendekat dengan keranjang rumput yang tetap berada dipundaknya.
Ki Juru Mertani menyerahkan gulungan rontal itu kepada sang perumput. Namun diam-diam, Ki Ageng Pamanahan bergerak kearah belakang sang tukang rumput dengan gerakan pelan.
Begitu gulungan rontal telah diterima dan telah diselipkan dipinggang sang perumput, cepat Ki Ageng Pamanahan mencabut keris dari pinggangnya dan meraih daun telinga sang perumput tersebut. Tak menunggu waktu, disayatnya daun telinga sang penerima rontal hingga putus seketika itu juga!! Jerit kesakitan terdengar diiringi darah yang mengucur! Melihat kejadian itu, keenam perumput yang lain ketakutan dan langsung melarikan diri!!
Perumput yang kehilangan daun telinganya terlihat mengerang-ngerang kesakitan sembari mendekap telinganya yang telah kehilangan cuping. Darah merembes disela-sela jari jemarinya.
Sembari memegang keris, Ki Ageng Pamanahan berkata :
“Katakan kepada Arya Penangsang! Aku, orang Sela menunggu dia disini. Jika dia lelaki sejati, pasti akan datang!”
Sang perumput ketakutan setengah mati melihat Ki Ageng Pamanahan. Cepat dia membalikkan badan dan langsung lari terbirit-birit dengan meninggalkan keranjang rumputnya yang tumpah ditanah!!
Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani mengawasi sang perumput yang tengah berlari. Begitu sudah tidak terlihat mata, keduanya segera menaiki punggung kuda masing-masing dan kembali menuju barisan semula.
Perang besar akan terjadi sebentar lagi!!

Dikutip dari bacaan ONLINE

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar