--===MARI BERBAGI===--

Arya Penangsang (5)


Arya Penangsang (5)

imagebam.com 
 
Suasana tegang! Tak ada seorang-pun yang berani mengeluarkan suara! Hanya bunyi detak jantung yang berdegub kencang saja yang terdengar! Dan hanya terdengar oleh masing-masing pemilik jantung sendiri!
Nampak, Adipati Adiwijaya dan Arya Penangsang telah berhadapan dengan keris terhunus ditangan! Mata keduanya saling bertatapan! Gigi mereka saling bergemeletukan! Tinggal menunggu siapa dulu yang memulai menyerang!
Dibawah, kedua kelompok prajurid khusus dari Jipang dan Pajang juga tegang! Begitu junjungannya diserang atau memulai menyerang dulu, maka mereka-pun telah siap menyerang lawannya! Sesaat, mereka melirik kearah junjungannya yang masih berdiri berhadap-hadapan, sesaat kemudian mereka melirik lawan mereka yang bersila bersebelahan!
Suasana benar-benar genting!
Disaat kritis seperti itu, disaat keadaan yang tinggal meledak sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara salam yang keras! Disengaja keras!
“Assalammu’alaikum!!!”
Serta merta, semua mata segera melayangkan pandangannya kearah mana suara salam itu berasal. Nampak Sunan Kudus keluar dari ruang belakang diiringi beberapa santri.
Sembari menghela nafas, seluruh prajurid Jipang maupun beberapa prajurid Pajang yang muslim menjawab salam Sunan Kudus, walau tidak serempak.
Disana, baik Adipati Adiwijayamaupun Arya Penangsang segera menghela nafas melepaskan ketegangan yang semenjak tadi menyergap seluruh persendian dan melepak didada masing-masing!
Sunan Kudus berjalan menghampiri mereka sembari berucap lantang :
“Lho…lho..lho!! Kalian ini Priyayi (bangsawan: Damar Shashangka) atau pedagang keris???!!”
Sunan Kudus bergerak ketengah-tengah antara Arya Penangsang dan Adipati Adiwijaya. Posisi Adipati Adiwijaya berada disebelah kiri Sunan Kudus sedangkan Arya Penangsang berada disebelah kanannya. Terlihat, Sunan Kudus sigap memegang pergelangan tangan kedua priyayi yang tengah hendak saling serang itu! Namun, bagi yang jeli, pasti akan melihat, bahwa tangan kiri Sunan Kudus tengah memegang erat pergelangan tangan kanan Adipati Adiwijaya yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan Sunan Kudus memegang erat pergelangan tangan kiri Arya Penangsang yang jelas-jelas tidak menggenggam apapun. Tangan kanan Arya Penangsang yang menggenggam Kyai Brongot Setan Kober bebas bergerak leluasa!!
Sunan Kudus menatap tajam Arya Penangsang, terdengar dia membentak!!
“Sarungkan kerismu, Penangsang!!”
Arya Penangsang termangu. Masih belum bergeming. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya :
“Sarungkan, Penangsang!!”
Arya Penangsang ragu. Belum juga menurunkan kerisnya. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya lebih keras :
“Sarungkan kataku!!!”
Kali ini Arya Penangsang menurunkan Kyai Brongot Setan Kober yang terangkat, kemudian menyarungkannya ke dalam warangkanya. Melihat Arya Penangsang menyarungkan keris, Adipati Adiwijaya-pun lantas ikut menyarungkan Kyai Carubuk kedalam warangka.
“Hampir saja aku membuat makanan segar bagi burung…”, Arya Penangsang bergumam setengah menggeram.
Adipati Adiwijaya tersenyum kecil..
Sunan Kudus menghela nafas, sembari tetap diposisinya, Sunan Kudus berkata kepada Adipati Adiwijaya :
“Maafkan atas situasi yang tidak semestinya terjadi ini, anakmas Adiwijaya. Saya menyesal. Dan untuk kebaikan kita bersama, saya menyarankan, tidak ada salahnya jika anakmas beserta rombongan pulang ke Pajang lebih awal. Disini, saya pribadi dan seluruh masyarakat Kudus, sudah merasa sangat terhormat atas kedatangan anakmas Adiwijaya berikut rombongan jauh-jauh dari Pajang..”
Adipati Adiwijaya menghaturkan sembah didepan dada sembari berkata :
“Bapa Sunan, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Bapa Sunan Kudus, karena hampir saja saya membuat seorang wanita menjadi janda baru di ruangan dalam pesantren ini..”
Mata Sunan Kudus maupun Arya Penangsang berkilat mendengar kata-kata Adipati Adiwijaya.
Sunan Kudus segera menyela :
“Sudahlah…sudahlah! Saya memaklumi kemarahan anakmas Adiwijaya. Daripada berlarut-larut, sebaiknya anakmas mengalah..”
“Baiklah Bapa Sunan, memang lebih baik saya dan rombongan mengundurkan diri dari sini…”
Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pemanahan beserta beberapa prajurid khusus Pajang segera berpamitan kepada Sunan Kudus.
Rombongan dari Pajang memutuskan pulang terlebih dahulu sebelum acara puncak peringatan Tahun Baru Islam dimulai. Iring-iringan rombongan ini tengah keluar dari pondok pesantren Kudus!
Diruang dalam, setelah melepas kepergian rombongan Pajang, Sunan Kudus memanggil secara pribadi Arya Penangsang diruangan khusus. Disana, hanya ada Sunan Kudus dan beberapa prajurid khusus yang terpercaya, termasuk Patih Matahun.
Sunan Kudus memarahi Arya Penangsang atas segala tindakan bodoh yang telah dilakukannya. Arya Penangsang menyela, meminta penjelasan dimanakah letak kebodohannya. Bukankah malah Sunan Kudus yang melerai disaat dia sudah berhadapan dengan Adipati Adiwijaya?
Dengan suara tinggi, Sunan Kudus berkata :
“Siapakah yang telah menduduki kursi yang telah aku isi doa-doa khusus?”
Seketika Arya Penangsang terdiam.
“Lantas, apakah kamu tidak menyadari tadi, saat aku melerai kalian, tangan kanan Adiwijaya aku pegang erat, sedangkan tangan kanan kamu aku biarkan bergerak bebas? Ingat-ingat lagi! Aku memegang tangan kanan Adiwijaya yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan kamu yang tengah menggenggam Kyai Brongot aku biarkan bebas!”
Arya penangsang tetap terdiam.
“Lantas, apa yang aku katakan kepadamu?”
Arya Penangsang mengerutan dahinya, mencoba mengingat…
“Aku berkata ‘SARUNGKAN KERISMU’ sampai tiga kali. Kamu tahu maksudku yang sebenarnya? ”
Arya Penangsang menatap Sunan Kudus, mulai sedikit memahami..
“Maksudku ‘SARUNGKAN KERISMU KEDADA ADIWIJAYA, BUKAN KE WARANGKANYA’!! Kamu saja yang terlampau bodoh, sehingga tidak memahami kata-kata isyarat yang aku ucapkan. Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan kamu memusnahkan salah seorang manusia penentang ajaran mulia !!”
Arya Penangsang menggeram menyadari kebodohannya sendiri! Serta merta dia menyembah dan berkata :
“Sebelum rombongan Adiwijaya jauh, tidak ada salahnya saya mengejar dan menghabisinya sekarang!!”
Sunan Kudus menatap tajam Arya Penangsang :
“Ini bukan saat yang tepat menyerang rombongan Pajang dimana banyak berkumpul para tamu undangan di Kudus. Asal kamu tahu, kecuali aku dan kamu, tidak akan ada yang mampu menghadapi kesaktian Adiwijaya. Dia memiliki pegangan ilmu kanuragan warisan Buda Majapahit. Sangat riskan jika aku terjun sendiri. Tidak pantas bagiku berhadapan dengan anak kemarin sore seperti dia. Sedangkan kamu, saat ini hanya akan menjadi boneka mainan jika berhadapan dengan dia, karena seluruh ilmu kanuragan yang kamu miliki telah lumpuh!!”
Dada Arya Penangsang terasa panas dan sesak mendengar penuturan Sunan Kudus!
“Lantas bagaimana Bapa Sunan?”
“Selama tiga bulan berselang, mulai bulan Muharram ini, kamu harus berpuasa terus-menerus! Genap tiga bulan, seluruh hizib dan asma’ yang kamu miliki akan kembali pulih dan berfungsi. Setelah itu, aku akan mencari jalan lain untuk menghadapi Adiwijayai!!”
Arya Penangsang lemas mendengarnya.
Dan Sunan Kudus berlalu kedalam sembari hanya mengucapkan salam.
Permintaan Ratu Kalinyamat.
Rombongan Pajang yang pulang lebih awal dari jadwal semula nampak keluar dari kota Kudus. Disepanjang jalan, seluruh prajurid yang ikut dalam rombongan, senantiasa mempertajam kewaspadaan mereka. Kejadian yang pernah menimpa rombongan Ratu Kalinyamat dulu, membuat mereka lebih siaga dan tidak mau kecolongan.
Disepanjang perjalanan, banyak mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Acara peringatan Tahun Baru Islam di Kudus belum juga dilaksanakan, namun rombongan dari Pajang nampak malah pulang lebih awal. Ada apa gerangan?
Ketika belum terlampau jauh dari kota Kudus, mendadak Adipati Adiwijaya memerintahkan rombongan berhenti. Perintah yang mendadak ini sedikit mengejutkan seluruh prajurid yang ikut dalam rombongan, tak terkecuali Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani. Namun, setelah menyadari jika Sang Adipati hanya sekedar ingin beristirahat, ketegangan-pun mencair.
Nampak, Adipati Adiwijaya turun dari atas punggung gajah tunggangannya. Beberapa prajurid yang bertugas mengiringi disamping binatang tunggangan bertubuh besar tersebut tanggap dan segera membantu.
Melihat Sang Adipati turun, serentak seluruh rombongan-pun ikut turun dari punggung kuda masing-masing.
Daerah mana tempat mereka berhenti memang sangat memungkinkan untuk dijadikan tempat istirahat sejenak. Disamping tempatnya yang landai, rimbunnya pepohonan raksasa yang tumbuh disepanjang jalan, membuat tempat tersebut terasa sejuk menyegarkan.
Bergegas Ki Ageng Pemanahan memerintahkan beberapa prajurid mendirikan tenda darurat sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi Sang Adipati. Enam orang prajurid bekerja cekatan, sebentar saja telah berdiri tenda sederhana namun megah. Permadani-pun segera dihamparkan didalam tenda.
Adipati Adiwijaya berkenan duduk diatas permadani tersebut. Suasana yang segar. Para prajurid memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat sejanak. Masing-masing memilih tempat yang rindang. Berpencar walau tetap tidak jauh dari tenda Sang Adipati.
Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Mertani menghadap. Keduanya duduk bersila didepan Adipati Adiwijaya. Nampak dari kejauhan, ketiga priyayi Pajang ini tengah berbincang-bincang serius.
Sejurus kemudian, terlihat Ki Ageng Pamanahan memanggil seorang prajurid. Ki Ageng Pamanahan memerintahkan sesuatu. Prajurid yang dipanggil bergegas menghampiri beberapa temannya yang lain, dia nampak memilih-milih, ada sekitar sepuluh orang yang dia pilih. Lantas mereka menghilang sejenak dibalik gerombol pepohonan dan kembali lagi dengan pakaian yang sudah berganti. Mereka semua melepas pakaian keprajuridan, dan kini telah berganti dengan pakaian rakyat biasa.
Ditempat lain, Adipati Adiwijaya diam-diam juga telah berganti pakaian. Begitu juga dengan Ki Ageng Pamanahan. Namun anehnya, pakaian kebesaran Sang Adipati, kini malah dikenakan oleh Ki Juru Mertani.
Banyak prajurid yang bertanya-tanya. Namun dari bisik-bisik satu teman ke teman yang lain, mereka jadi tahu jika Adipati Adiwijaya diikuti oleh Ki Ageng Pamanahan dan sepuluh prajurid yang terpilih, hendak menuju ke Gunung Danaraja untuk menemui Ratu Kalinyamat yang tengah bertapa telanjang. Mereka semua sengaja menyamar sebagai rakyat biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari mata-mata Jipang Panolan yang mungkin tengah memperhatikan rombongan mereka.
Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pemanahan dan kesepuluh prajurid yang kini telah berganti busana, terlihat berangkat meninggalkan rombongan. Kedua belas orang yang telah menyamar ini memacu kuda memisahkan diri dari dari rombongan dan memilih jalan yang menuju ke Jepara.
Agak lama berselang, Ki Juru Mertani segera memerintahkan seluruh rombongan siap-siap berangkat. Ki Juru Mertani dibantu dua orang prajurid, segera menaiki punggung gajah milik Sang Adipati.
Rombongan Pajang yang kini dipimpin oleh Ki Juru Mertani, berangkat dan memilih jalan ke arah Pajang.
Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pamanahan berikut sepuluh orang prajurid yang kini telah menyamar sebagai rakyat biasa terlihat memacu kuda dengan kecepatan sedang. Mereka tengah menyamar sebagai para pedagang keliling.
Akhirnya, sampailah juga kedua belas orang ini ke kota Jepara. Adipati Adiwijaya segera mencari letak Gunung Danaraja. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh prajurid Pajang yang sempat pulang ke Pajang untuk mengambil perbekalan makanan dan berbagai keperluan bagi Ratu Kalinyamat beserta seluruh yang mengawal dan melayaninya, Adipati Adiwijaya-pun akhirnya berhasil menemukan lokasi gua tempat dimana Ratu Kalinyamat tengah menjalani tapa telanjang-nya.
Kedatangan kedua belas orang berkuda ini menimbulkan kecurigaan dari beberapa prajurid Pajang yang bertugas menjaga mulut gua. Mereka yang tengah bersembunyi ditempat-tempat strategis dibeberapa sudut tersembunyi mulut gua, segera mempersiapkan diri. Sang pemimpin pasukan memberikan isyarat agar memasang anak panah pada busurnya. Anak panah telah terpasang, busur telah diangkat dan direntangkan, siap menunggu isyarat untuk dibidikkan!!
Namun sang pemimpin prajurid memekik tertahan manakala tanpa sengaja mengenali dua orang penunggang kuda yang tengah memacu kuda dibarisan depan. Seketika itu juga, dia memberikan isyarat agar menurunkan busur panah. Dia segera keluar dari tempat persembunyian diiringi empat prajurid yang lain.
Menyadari kedatangannya telah disambut sedemikian rupa, Adipati Adiwijaya beserta rombongan terus memacu kuda lebih kencang kearah atas. Ketika jarak antara prajurid berkuda dan kelima orang yang telah menyambut sedemikian dekat, Adipati Adiwijaya segera menghentikan laju kudanya.
Kelima orang prajurid Pajang yang menyambut rombongan menghaturkan sembah hormat. Adipati Adiwijaya segera memerintahkan agar secepatnya seluruh prajurid mencari tempat yang tersembunyi untuk menaruh kuda masing-masing.
Diiringi Ki Ageng Pamanahan dan dihantar pemimpin prajurid penjaga, Adipati Adiwijaya segera memasuki gua. Sang pemimpin prajurid memanggil seorang pelayan wanita. Sang pelayan memekik gembira melihat kehadiran Adipati Adiwijaya dan Ki Ageng Pamanahan. Beberapa pelayan yang lain segera menyadari akan hal itu, mereka semua segera mendekat dan menghaturkan sembah.
Adipati Adiwijaya memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menghadap Ratu Kalinyamat, mengabarkan kedatangannya. Seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh memasuki salah satu relung gua. Sejenak kemudian keluar dan menghadap kembali kepada Adipati Adiwijaya. Sembari menyembah dia berkata :
“Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Kangjeng Ratu Ayu Kalinyamat meminta Kangjeng masuk ke dalam. Hanya Kangjeng seorang, tidak boleh ditemani oleh siapapun.”
Adipati Adiwijaya mengangguk. Kemudian berjalan kearah relung gua seorang diri.
Didalam, beberapa pelita terpasang didinding-dinding gua. Ruang itu cukup luas juga. Disana, merapat ke dinding gua, terlihat agak samar, sesosok wanita cantik dengan tubuh sempurna dan rambut panjang terurai, tengah duduk bersila. Dan yang membuat Adipati Adiwijaya segera menundukkan muka, karena menyadari, sosok wanita cantik itu benar-benar telanjang bulat tanpa busana.
Untung, kondisi ruangan yang cukup gelap dan hanya diterangi beberapa pelita, sedikit menyamarkan perwujudan telanjang tersebut. Namun walau bagaimanapun juga, jika mau melihat secara seksama, Adipati Adiwijaya sebetulnya bisa melihat tubuh itu secara utuh.
Dengan menundukkan wajah, Adipati Adiwijaya memberikan sembah. Dan sosok wanita cantik yang tengah bersila itu-pun membalas sembah Adipati Adiwijaya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar keselamatan masing-masing, Adipati Adiwijaya, sembari tetap menundukkan wajah-pun berkata :
“Kakangmbok Ratu Ayu, seyogyanya kakangmbok Ratu berkenan mengenakai kemben. Sangat-sangat segan hati saya jikalau harus berbincang-bincang dengan kakangmbok sedangkan kakangmbok dalam keadaan telanjang bulat sedemikian rupa…”
Dari balik geiaian rambut panjangnya, Ratu Kalinyamat tersenyum manis..
“Maafkan aku dhimas, aku terpaksa tidak bisa memenuhi permintaanmu. Biarlah, selain almarhum kangmas Sunan Kalinyamat, cukup kamu saja laki-laki yang melihat aku dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Sudah menjadi sumpahku, tidak sudi aku mengenakan busana lagi, jikalau Hyang Maha Agung, belum memberikan keadilan kepada Arya Penangsang, pembunuh kakangmas Prawata dan kangmas Sunan Kalinyamat!”
Adipati Adiwijaya menghela nafas berat.
“Kakangmbok Ratu Ayu, sangat prihatin saya melihat keadaan kakangmbok. Sampai kapan terus telanjang tanpa busana. Selain tabu didengar orang banyak, sekali lagi, saya juga sangat merasa segan dan rikuh jika harus kemari dan tetap melihat kakangmbok seperti ini.”
Ratu Kalinyamat diam sejenak, lantas mendesis lirih dan berkata :
“Dhimas, seharusnya aku yang mempertanyakan hal ini kepadamu. Tidakkah kamu kasihan, tidakkah kamu iba melihat aku? Melihat penderitaanku? Melihat ketidak adilan yang menimpaku?”
Adipati Adiwijaya terdiam. Lantas membuka suara :
“Jangan salah sangka kakangmbok. Saya dan Nimas Sekaring Kedhaton senantiasa memikirkan keadaan kakangmbok Ratu Ayu disini. Saya juga terus menimbang-nimbang bagaimana cara terbaik untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Namun, kondisi diluar tidaklah memungkinkan bagi saya berhadapan langsung dengan Arya Penangsang secara terbuka. Bapa Sunan Kudus berada dibelakang Arya Penangsang. Bapa Sunan Kudus sangat berpengaruh dalam Dewan Wali Sangha. Kakangmbok tahu sendiri itu. Sangat mudah bagi Bapa Sunan Kudus mempengaruhi keputusan Dewan Wali Sangha. Jika sampai Pajang berhadapan secara frontal dengan Jipang, bukan tidak mungkin, Bapa Sunan Kudus, melalui Dewan Wali Sangha akan memerintahkan Cirebon dan Banten bergabung dengan Jipang menghadapi orang-orang yang dinilai kafir seperti saya!”
Adipati Adiwijaya diam sejenak, lantas melanjutkan kata-katanya :
“Sungguh, secara pribadi, saya sendiri juga sudah tidak tahan melihat kelakuan Arya Penangsang. Hampir saja saya bentrok secara langsung dengan dia. Hampir saja saya tidak bisa menahan diri…”
Dan Adipati Adiwijaya menceritakan pertemuannya dengan Arya Penangsang di pesantren Kudus.
“Hyang Widdhi Wasa masih berkenan mencegah saya berhadapan langsung dengan Arya Penangsang.”
Terdengar helaan nafas lembut dari bibir Ratu Kalinyamat, lalu dia berkata :
“Dengar dhimas. Jika kamu benar-benar dapat menyingkirkan Arya Penangsang, aku bersumpah, disaksikan Hyang Maha Agung, disaksikan langit dan bumi, semoga aku akan menuai kutuk jika aku mengingkari sumpah ini. Dengarkan! JIKA KAMU MAMPU MENYINGKIRKAN ARYA PENANGSANG, MAKA TAHTA DEMAK BINTARA AKAN AKU LIMPAHKAN KEPADAMU!”
Adipati Adiwijaya mengangkat wajahnya. Dilihatnya, dari balik geraian rambut panjangnya, sorot mata Ratu Kalinyamat berkilat-kilat, tengah menatap wajah Adipati Adiwijaya.
“Bahkan, jikalau peraturan hukum jaman Buda masih berlaku luas dimasyarakat Jawa, dimana seorang laki-laki boleh memadu dua orang wanita kakak beradik sekaligus, maka sungguh aku-pun rela lahir batin kamu nikahi sebagai madu dari adikku Nimas Sekaring Kedhaton. Namun, hal itu tidak mungkin bisa diterima kebanyakan masyarakat Jawa sekarang. Oleh karena itu, kamu boleh memilih selir-selir milik almarhum kangmas Sunan Kalinyamat dan almarhum kangmas Prawata yang engkau sukai untuk kamu nikahi!”
Adipati Adiwijaya terdiam. Kesungguhan kata-kata Ratu Kalinyamat terpancar dari wajah ayunya. Sengaja, rambut panjangnya yang tergerai, disibak kesamping sedikit, sehingga payudara Sang Ratu-pun terlihat. Dada Adipati Adiwijaya berdesir melihatnya, cepat-cepat dia menundukkan wajah kembali..
“Tapi ingat, dhimas! Satu permintaanku, jika kamu berhasil mengalahkan Arya Penangsang, dan tahta Demak Bintara telah kamu pegang, aku minta, janganlah kamu mendirikan Kerajaan Buda. Biarlah kamu tetap meneruskan sebuah pemerintahan berbentuk Kesultanan Islam. Biarlah gelarmu dikenal orang sebagai seorang Sultan, bukan seorang Prabhu!”
Keheningan menyergap seketika. Dan Adipati Adiwijaya semakin terperangah manakala melihat Ratu Kalinyamat menyibak seluruhnya geraian rambut panjang yang menutupi tubuh bagian depannya. Kini, tampak jelas didepan mata Adipati Adiwijaya, tubuh polos Sang Ratu tanpa ditutupi oleh apapun juga. Mendadak dada Adipati Adiwijaya terasa sesak.
“Inilah tanda kesungguhanku,” bisik Ratu Kalinyamat sembari tersenyum..
Dengan menarik nafas berat, Adipati Adiwijaya menyembah hormat dan berkata :
“Baiklah kakangmbok Ratu Ayu. Saya berjanji akan mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan Arya Penangsang. Dan jika hal itu berhasil atas waranugraha Hyang Widdhi, saya berjanji, akan memakai gelar Sultan, bukan Prabhu!”
Dan Adipati Adiwijaya-pun memohon diri untuk keluar ruangan. Dan Ratu Kalinyamat-pun menghaturkan terima kasihnya.
Malam itu, Sang Adipati bermalam di Gunung Danaraja. Dengan didampingi Ki Ageng Pamanahan, Adipati Adiwijaya membahas rencana yang tepat untuk memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat. Ki Ageng Pamanahan mengusulkan, agar Sang Adipati mempercayakan hal ini kepada Ki Juru Mertani.
Ki Juru Mertani adalah sosok yang cerdik dan bisa diandalkan dalam memberikan pemecahan dan cara yang terbaik disaat semua jalan dirasa buntu.
Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada Ratu Kalinyamat, Adipati Adiwijaya beserta Ki Ageng Pamanahan dan sepuluh prajurid yang mengiringinya, meninggalkan Gunung Danaraja bertolak ke Pajang!

Dikutip dari bacaan Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar