--===MARI BERBAGI===--

Arya Penangsang (4)

Arya Penangsang (4)
imagebam.com  
Tusukan keris bisa dihindari oleh Adipati Adiwijaya. Bahkan dengan tak terduga, keris ditangan Sang Adipati cepat menukik ke arah perut! Orang bercadar kaget! Begitu cepat serangan tersebut! Dia berusaha menghindar selekasnya, namun karena terlalu cepatnya serangan, kulit perutnya-pun tergores juga! Dibalik cadarnya, dia meringis kesakitan!!
Salah seorang yang sedari tadi terjatuh, kini bangkit berdiri dan langsung menyerang! Kegaduhan kembali terjadi lebih dari semula! Namun, bagaimanapun juga, kedua pasukan khusus Sureng Jipang Panolan ini diam-diam harus mengakui, sosok Adipati Adiwijaya memang tangkas dan trengginas dalam bermain silat!
Belum lama pertempuran terjadi, karena terpancing suara gaduh dan jeritan para selir yg berselang-seling dengan teriakan-teriakan dari mereka yang tengah berkelahi, beberapa pasukan pengawal Adipati merangsak masuk ke dalam kamar. Nampak Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani langsung ikut meleburkan diri dalam kegaduhan!
Sang Adipati berteriak nyalang :
“Jangan bunuh!! Tangkap hidup-hidup!!”
Apa daya dua orang menghadapi beberapa prajurid pengawal Adipati Pajang. Begitu tombak-tombak panjang yang runcing terarah ketubuh mereka, mau tak mau, mereka menghentikan serangannya dan langsung duduk bersimpuh!!
“Kangjeng Adipati, saya juga telah membekuk dua orang lain yang berada diluar!”. Ujar Ki Ageng Pamanahan sembari menyembah.
Adipati Adiwijaya menyarungkan kerisnya.
“Kurung mereka untuk sementara waktu. Obati luka-luka mereka. Besok pagi, hadapkan semuanya kepadaku!”
Ki Ageng Pemanahan menyembah lantas memrintahkan dua orang prajurid pengawal untuk mengikat tangan kedua orang bercadar yang kini tengah duduk bersimpuh! Keduanya lantas digiring keluar kamar dan dibawa ke Pakunjaran atau tempat kurungan.
Malam itu, Adipati Adiwijaya terpaksa harus tidur dikamar permaisurinya, Nimas Sekaring Kedhaton yang jadi ikut terbangun akibat kejadian tersebut. Beberapa pelayan wanita terpaksa pula membereskan seluruh perabotan pecah belah yang hancur berserakan akibat perkelahian barusan.
Malam itu, seisi Kadipaten Pajang geger!

Keesokan harinya, keempat orang yang semalam tertangkap, dihadapkan secara khusus kepada Adipati Adiwijaya. Cadar mereka telah dibuang. Kini wajah keempat-empatnya nampak jelas sudah. Mereka menundukkan muka, menunggu jatuhnya hukuman mati yang pasti akan diberikan oleh Adipati Adiwijaya!
Sang Adipati terdiam agak lama memperhatikan keempat orang yang nampak sudah sangat pasrah tersebut. Di sana, Ki Mas Manca, Ki Wila, Ki Wuragil, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani ikut hadir. Berikut beberapa prajurid pengawal. Suasana tegang, menantikan apa yang hendak dilakukan oleh Sang Adipati. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun.
Pada akhirnya, Adipati Adiwijaya-pun angkat suara.
“Dhimas Pemanahan. Bagaimana hasilnya?”
Ki Ageng Pamanahan menyembah sejenak dan menjawab :
“Kasinggihan Dalem Kangjeng, keempat orang ini adalah prajurid Sureng dari Jipang Panolan!”
Seluruh yang hadir terkejut seketika mendengar jawaban Ki Ageng Pemanahan. Adipati Adiwijaya lekat memperhatikan keempat orang dihadapannya sembari memincingkan mata. Yang diperhatikan semakin menundukkan kepala.
Nampak kemudian, Ki Ageng Pemanahan mengeluarkan benda berbuntalkan kain putih dari balik bajunya, kemudian menyembah sejenak dan berjalan duduk menghampiri tempat Adipati.
“Mohon Kangjeng memeriksa benda ini.”
Adipati Adiwijaya menerima benda berbungkus kain putih yang dihaturkan Ki Ageng Pemanahan. Dengan menahan nafas, dibukanya kain putih penutup, begitu benda telah lepas dari penutupnya, memerahlah wajah Sang Adipati. Bibirnya tanpa sadar bergumam :
Kyai Brongot Setan Kober!”
Suara Sang Adipati menambah keterkejutan semua yang hadir. Ditangannya kini tergenggam sebilah keris yang tak lain adalah Kyai Brongot Setan Kober, keris pusaka milik Sunan Kudus yang telah diberikan kepada Arya Penangsang.
Dada Adipati Adiwijaya bergemuruh. Ditunjukkannya keris ditangan kepada Ki Mas Manca. Ki Mas Manca memincingkan mata memperhatikan keris tersebut lekat-lekat. Sembari menarik nafas, wajah Ki Mas Manca bersemu merah!
“Bagaimana, kangmas?” , tanya Adipati Adiwijaya.
Ki Mas Manca diam sesaat. Kemudian dia menjawab :
“Terserah dhimas Adipati. Ini sudah keterlaluan!”
Keris lantas diserahkan kembali kepada Ki Ageng Pemanahan. Kini kembali Adipati Adiwijaya memperhatikan empat orang prajurid Sureng Jipang Panolan. Sang Adipati dengan suara tertahan, menanyakan langsung kepada keempat prajurid dihadapannya, benarkah Arya Penangsang yang telah memerintahkan mereka.
Salah seorang prajurid yang ditunjuk untuk menjawab, dengan terbata-bata membenarkan akan hal itu. Suasana menjadi bertambah tegang.
Adipati Adiwijaya menghela nafas, lantas berkata :
“Kalian orang Jipang, kali ini aku ampuni nyawa kalian!”
Mendengar titah Sang Adipati, semua yang mendengar tidak menduga sama sekali. Lantas kembali Sang Adipati berkata :
“Pulanglah kembali ke Jipang Panolan. Tapi Kyai Brongot Setan Kober aku ambil. Dan kepulangan kalian akan aku beri bekal emas permata dan uang ketheng yang banyak. Katakan kepada Arya Penangsang, tidak mudah membunuh Jaka Tingkir!”
Keputusan sudah diturunkan, tidak ada lagi yang berani membantah.
Keeesokan harinya, keempat prajurid Sureng dari Jipang dihantarkan oleh prajurid khusus pengawal Adipati keluar dari ibu kota Pajang untuk pulang kembali ke Jipang Panolan.
Betapa malu keempat orang prajurid Sureng tersebut mendapat perlakuan semacam itu.
Undangan Sunan Kudus
Kepulangan empat prajurid Sureng ke Jipang Panolan, bukannya membawa kabar keberhasilan yang membuat Arya Penangsang senang, namun malahan membawa malu yang mencoreng muka Arya Penangsang. Tidak hanya gagal menjalankan tugas, tapi juga meninggalkan Keris Kyai Setan Kober di Pajang!
Sudah bisa ditebak, diam-diam keempat orang prajurid ini dijatuhi hukuman penggal kepala oleh Arya Penangsang karena tidak berhasil menjalankan tugas. Ironis.
Kabar kegagalan itu dilaporkan oleh Arya Penangsang kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus tak habis pikir, betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki Adipati Adiwijaya. Keris Kyai Brongot Setan Kober, tidak mampu melukai tubuhnya sedikitpun. Arya Penangsang mendesak Sunan Kudus agar diberi ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang. Karena semua sudah kepalang basah. Namun lagi-lagi, Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih memiliki satu cara lagi. Satu cara untuk memancing Adipati Adiwijaya keluar dari sarang. Jika berhasil dipancing keluar dari sarangnya, maka untuk memusnahkan segala ilmu kanuragan yang dimilikinya dan lantas membunuhnya akan semakin mudah dilakukan.
Pada hari yang akan ditentukan, Sunan Kudus secara pribadi akan mengirimkan undangan khusus kepada Adipati Pajang. Sunan Kudus sengaja mengundang Sang Adipati guna untuk memperingati tahun baru Islam, satu Muharrom, yang hendak dirayakan oleh Pesantren Kudus. (Waktu itu, kalender Jawa belum lahir. Kalender yang dipakai adalah kalender Hijriyyah dan kalender Saka. Kedua kalender yang berasal dari tradisi Islam dan tradisi Hindhu ini dipakai secara bersamaan. Jadi waktu itu belum dikenal istilah SURO-an. Kalender Jawa baru lahir kelak oleh cicit Ki Ageng Pemanahan, cucu Panembahan Senopati, yaitu Kangjeng Sultan Agung Anyakrakusuma pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi. Kalender Jawa adalah sistim penanggalan dimana kalender Hijriyyah dari Islam dan kalender Saka dari Hindhu dilebur menjadi satu kesatuan. : Damar Shashangka)
Dapat dipastikan, Adipati Adiwijaya sebagai seorang pemimpin yang disegani di Jawa, akan menghargai undangan tersebut. Undangan dari seorang anggota Dewan Wali Sangha yang tergolong sepuh. Yang punya pengaruh dan suaranya didengar di dalam Dewan Wali. Maka mau tak mau, Adipati Adiwijaya akan hadir memenuhi undangan tersebut.
Manakala Adipati Adiwijaya telah datang ke Kudus, maka Arya Penangsang yang harus menyambut kedatangannya. Sunan Kudus telah menyediakan sebuah kursi khusus yang sengaja telah diberi doa-doa untuk melenyapkan segala macam ilmu kesaktian yang dimiliki siapapun yang duduk diatasnya. Dan adalah tugas Arya Penangsang untuk mengusahakan agar Adipati Adiwijaya bisa duduk dikursi tersebut.
Disamping itu, diam-diam Arya Penangsang juga harus mempersiapkan seluruh angkatan bersenjata Jipang untuk bersiap-siap menyerang Pajang.
Jika Adipati Adiwijaya telah menduduki kursi khusus tersebut, maka saatnya bagi Arya Penangsang untuk membunuh Sang Adipati saat itu juga. Dapat dipastikan, seluruh kekuatan Adipati Adiwijaya luruh. Begitu Sang Adipati telah tewas, maka Arya Penangsang harus segera memerintahkan penyerangan besar-besaran ke Pajang.
Dengan tidak adanya Adipati Adiwijaya, Pajang, sekuat apapun, hanya akan menjadi harimau tak bertaring. Pajang akan kucar-kacir. Dan Jipang pasti bisa menjebol Pajang!
Rencana yang sangat matang tersebut disetujui Arya Penangsang. Dan menginjak bulan ke sebelas menurut kalender Islam, yaitu bulan Dzulqo’idah, Sunan Kudus mengirimkan surat undangannya ke Pajang.
Surat dari Sunan Kudus tersebut diterima oleh Adipati Adiwijaya. Isi surat segera menjadi bahasan serius Sang Adipati. Disana tertera bahwasanya Sunan Kudus mengharap dengan hormat kepada Kangjeng Adipati Pajang, Adiwijaya, untuk bersedia hadir di Kudus pada bulan Muharrom guna ikut memperingati perayaan tahun baru Islam.
Seluruh orang terdekat Adipati Adiwijaya menyarankan agar Adipati Adiwijaya berhati-hati. Bisa jadi ini adalah jebakan baginya. Namun, tidaklah etis mengabaikan undangan seorang berpengaruh di Jawa seperti Sunan Kudus dimana suaranya memiliki kekuatan dalam Dewan Wali Sangha.
Maka diputuskan, Adipati Adiwijaya akan berangkat ke Kudus dengan didampingi oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani. Sedangkan Ki Mas Manca, Ki Wila dan Ki Wuragil, akan tetap di Pajang. Menyiagakan seluruh kekuatan angkatan bersenjata Pajang jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adipati Adiwijaya mempercayakan Pajang kepada Ki Mas Manca manakala dia pergi ke Kudus.
Dua bulan kemudian, menjelang beberapa hari sebelum hari perayaan yang tertera dalam surat undangan dari Kudus, berangkatlah rombongan Adipati Pajang ke Kudus. Segala macam kebesaran Pajang nampak dari rombongan tersebut. Disetiap jalan yang dilalui, rombongan Pajang senantiasa mendapatkan berbagai bentuk penghormatan dari rakyat. Bahkan, ditempat-tempat mana rombongan Pajang bermalam, rakyat sangat bersuka cita menerima kehadiran mereka. Banyak yang mempersembahkan makanan dengan suka rela walaupun sebenarnya, seluruh rombongan tidak begitu memerlukannya. Perbekalan yang dibawa dari Pajang sudah lebih dari cukup.
Namun, Adipati Adiwijaya memerintahkan kepada seluruh prajurid yang ikut dalam rombongan agar menerima segala persembahan dari rakyat tersebut. Walaupun nampak remeh temeh, namun itu adalah wujud kecintaan rakyat kepada mereka semua. Jangan sekali-kali mengacuhkan persembahan makanan yang diunjukkan dengan rasa penuh kecintaan tersebut.
Beberapa hari kemudian, sampailah rombongan Adipati Pajang ke kota Kudus. Kedatangan rombongan dari Pajang ini mengagetkan masyarakat Kudus. Mereka terperangah melihat segala macam kebesaran yang terlihat. Mereka baru menyadari, bahwa Pajang ternyata sudah pantas jika menjadi sebuah Kerajaan besar. Panji-panji Pajang berkibar-kibar. Berkelebat dengan gagah diterpa angin. Nampak didepan, Adipati Adiwijaya menaiki seekor gajah diiringi beberapa prajurid berkuda diarah depan, kiri, kanan dan baru rombongan berkuda juga dibelakangnya. Seluruh orang Kudus kagum melihat kebesaran Pajang!
Rombongan itu langsung menuju ke Pesantren Kudus. Disana, para santri menyambut kedatangan rombongan Adipati Pajang dengan menabuh rebana dan menyanyikan salawat Nabi seperti kebiasaan mereka.
Diantara rombongan, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani, tetap mempertajam kewaspadaan mereka. Nampak, selain para santri, ada terlihat beberapa pasukan Jipang yang juga telah hadir disana. Bahkan ada beberapa pasukan dari daerah lain yang nampak ikut hadir.
Namun kedatangan rombongan dari Pajang, lebih menyita perhatian. Kebesaran Adipati Adiwijaya sangat memukau semua mata. Begitu Sang Adipati turun dari atas punggung gajah, nampak dipendhopo, beberapa santri langsung menyambutnya dan mempersilakan masuk ke pendhopo.
Seluruh rombongan turun dari kuda. Masing-masing tali kekang kuda ditambatkan ditempat yang telah disediakan. Perayaan tahun baru Islam di Kudus memang terlihat meriah.

Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani segera mengiringi Adipati Adiwijaya. Mereka masuk ke pendhopo diikuti para prajurid khusus Pajang yang lain.
Begitu seorang santri kembali mempersilakan agar Adipati Adiwijaya masuk ke ruang dalam untuk bertemu secara khusus dengan Sunan Kudus, Ki Ageng Pemanahan segera memilih beberapa prajurid yang terlatih untuk ikut mengiringi Sang Adipati bersamanya. Sedangkan Ki Juru Mertani, tetap bertugas diluar, menyiagakan seluruh prajurid yang tidak ikut masuk bila ada hal yang tidak dikehendaki nanti.
Manakala Adipati Adiwijaya, Ki Ageng Pemanahan dan beberapa prajurid pilihan masuk keruang dalam, betapa terkejut mereka ketika disana Arya Penangsang dan beberapa prajurid khusus Jipang Panolan telah berdiri menyambut.
Baik Adipati Adiwijaya maupun Ki Ageng Pemanahan segera waspada.
Arya Penangsang langsung bergerak memeluk Adipati Adiwijaya. Setelah itu dia berkata :
“Dhimas Adiwijaya, sangat senang hatiku melihat adhimas bersedia hadir di Kudus ini.”
Adipati Adiwijaya tersenyum dan menjawab :
“ Kangmas Penangsang, hati saya-pun gembira bisa melihat kangmas juga hadir di Kudus ini.”
Diam-diam, Ki Ageng Pemanahan memberikan isyarat wspada kepada seluruh prajurid yang ikut masuk.
Terdengar Arya Penangsang kembali buka suara :
“Mari adhimas, silakan duduk disini…”
Arya Penangsang mempersilakan Adipati Adiwijaya untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia. Namun, mendadak terbersit perasaan ganjil dihati Adipati Adiwijaya manakala matanya melihat keberadaan kursi yang dimaksud oleh Arya Penangsang. Tanpa sadar, Adipati Adiwijaya berkata :
“Ah, kangmas. Bukankah itu kursi paling bagus diantara semua kursi yang ada disini. Tak layak bagiku duduk disana. Hanya Bapa Sunan Kudus sendiri sebagai tuan rumah yang pantas mendudukinya.”
Arya Penangsang tersenyum simpul .
“Tidak mengapa dhimas, mari…”
Arya Penangsang terlihat agak memaksa. Sikap Arya Penangsang menambah ketidak nyamanan dihati Adipati Adiwijaya semakin bertambah-tambah. Terasa aneh. Adipati Adiwijaya, secara halus tetap menolak untuk duduk disana.
“Sudahlah, kangmas Penangsang. Saya akan duduk dikursi sebelahnya saja. Saya tidak enak duduk disana, sepertinya ada sesuatu dikursi tersebut.”
Arya Penangsang kaget. Namun segera dia menutupi kekagetannya.
“Memang ada apa dikursi tersebut? Apa yang dhimas takutkan?”
Adipati Adiwijaya tersenyum dan menjawab :
“Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi jika memang tidak ada apa-apa disana, apakah kangmas berani menduduki kursi tersebut?”
Arya Penangsang sedikit kebingungan. Hal ini terbaca oleh Adipati Adiwijaya dan Ki Ageng Pemanahan.
“Mengapa kangmas? Kangmas takut duduk disana?” , sindir Adipati Adiwijaya.
Memerah wajah Arya Penangsang, dia menjawab :
“Tidak ada apa-apa disana, buat apa takut?!”
Dan dengan pongahnya Arya Penangsang langsung berjalan kearah kursi tersebut dan langsung duduk diatasnya. Padahal Sunan Kudus telah mewanti-wanti, kursi tersebut telah diisi dengan doa-doa, siapa saja yang menduduki kursi tersebut, dapat dipastikan, seluruh ilmu kanuragan yang dimiliki akan luruh seketika itu juga. (Sampai saat ini, kursi bersejarah ini masih tersimpan di Kudus. : Damar Shashangka)
Diam-diam, Sunan Kudus yang tengah mengintip dari dalam menggeram marah melihat kebodohan dan kesombongan Arya Penangsang. Namun dia belum memutuskan untuk keluar menemui Adipati Adiwijaya.
Melihat kursi yang semula ditawarkan kepadanya kini telah diduduki oleh Arya Penangsang, Adipati Adiwijaya tersenyum simpul, lantas mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Arya Penangsang. Ki Ageng Pemanahan dan beberapa prajurid, segera duduk bersila dibawah.
Setelah berbasa-basi sejenak, Adipati Adiwijaya menyengaja berkata demikian :
“Oh ya kangmas, saya jadi ingat. Beberapa bulan yang lalu, Pajang kemasukan para pembunuh bayaran. Nyawa saya yang diincar. Tapi syukurlah, Hyang Widdhi masih memberikan keselamatan kepada saya…,”
Sengaja Adipati Adiwijaya menggantung kalimatnya untuk melihat reaksi Arya Penangsang. Sedikit gugup Arya Penangsang, tapi berpura-pura dia kaget.
“Benarkah? Ah berani sekali. Syukurlah jika dhimas bisa lolos dari maut dan selamat sampai hari ini.”
Adipati Adiwijaya tersenyum mengangguk, lantas :
“Dan keris yang dipakai para pembunuh untuk membunuh saya, berhasil saya ambil…”
Adipati Adiwijaya memberi isyarat kepada Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan nampak tegang. Dia lantas mendekat dan mengulurkan sebuah peti kayu jati ke arah Adipati Adiwijaya.
Adipati Adiwijaya menerimanya. Lantas membuka peti tersebut. Dikeluarkannya sebilah keris dari sana. Dipegangnya sedemikian rupa sehingga semua mata bisa melihat keris ditanganya.
“Inilah keris tersebut!”
Muka Arya Penangsang bagai dirobek-robek! Merah padam sudah! Giginya bergemeletukan. Apalagi ketika mendengar ucapak Adipati Adiwijaya selanjutnya.
“Dan saat ini, sang keris telah bertemu kembali dengan tuannya.”
Dengan wajah tenang dan bibir tersenyum, Adipati Adiwijaya menyerahkan keris tersebut kepada Arya Penangsang. Ragu Arya Penangsang menerimanya. Namun akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara malu dan marah, diterima juga keris itu.
Terdengar kembali Adipati Adiwijaya berkata datar:
“Konon katanya keris tersebut ampuh. Tapi bagi saya terasa seperti digelitiki dengan lidi saat keris tersebut dihunjamkan didada saya.”
Amarah Arya Penangsang bangkit. Setengah menggeram dia berkata :
“Jika saya yang menggunakannya, jangankan manusia, gunung pun akan longsor, lautanpun akan kering!!” (Ungkapan sebenarnya adalah GUNUNG JUGRUG SEGARA ASAT yang artinya memang GUNUNG AKAN LONGSOR LAUTAN AKAN KERING. Menggambarkan betapa dahsyatnya benda tersebut. : Damar Shashangka)
Adipati Adiwijaya tergelitik juga, lantas Sang Adipati mencabut keris yang sedari tadi terselip dipinggang belakangnya. Kyai Carubuk nama keris Adipati Adiwijaya. Keris itu adalah pemberian Kangjeng Sunan Kalijaga!
“Lebih ampuh mana dengan Kyai Carubuk milik saya ini!”
Arya Penangsang seketika bangkit berdiri ! Dengan mata merah memandang kearah Adipati Adiwijaya tajam! Adipati Adiwijaya lantas ikut bangkit pula!! Suasana berubah tegang!!!
Dua orang ksatria ini kini telah berdiri berhadap-hadapan dengan keris ditangan masing-masing. Arya Penangsang dengan Kyai Brongot Setan Kober ditangannya ,sedangkan Adipati Adiwijaya dengan Kyai Carubuk!!!
Dibawah, baik prajurid Pajang maupun prajurid Jipang telah memutar keris mereka yang semua terselip dipinggang belakang, kini sudah diputar kedepan dengan gagang sudah mereka genggam!! Tinggal mencabut kerisnya!! Kedua pasukan khusus ini sudah siap tempur juga!!!
Dua kekuatan tangguh, Jipang dan Pajang, kini sudah berhadap-hadapan!!!

Dikutip dari bacaan Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar